• Saat datang ke Kota Himeji di Prefektur Hyogo, Jepang, jangan sampai melewatkan Kastel Himeji yang dijuluki “Kastel Bangau Putih”.

    Dari kejauhan, dinding kastel yang putih bersih dan atap yang bertumpuk berlapis-lapis terlihat sangat anggun di bawah langit biru. Kastel ini bagaikan seekor bangau putih yang mengembangkan sayap dan berdiri dengan tenang di tengah kota. Kastel Himeji bukan hanya Pusaka Nasional Jepang, tetapi juga Situs Warisan Dunia. Hingga kini, kastel ini masih mempertahankan tampilan bentengnya dari lebih dari empat ratus tahun lalu.

    Saat memasuki bagian dalam kastel, lorong-lorong berkelok, dinding batu yang kokoh, serta tangga kayu yang curam dan sempit membuat orang seolah-olah melintasi ruang dan waktu, kembali ke zaman Sengoku dan Edo di Jepang. Tempat ini bukan sekadar kastel kuno dengan tampilan luar yang megah. Di sini juga dapat terlihat kecerdikan arsitektur yang dirancang untuk bertahan dari serangan musuh pada masa itu.

    Setelah naik ke menara utama, pemandangan Kota Himeji dapat dilihat dari ketinggian sambil merasakan lanskap unik tempat sejarah dan masa kini berpadu. Dibandingkan terburu-buru mengambil foto, saya lebih suka memperlambat langkah, mengamati setiap detail arsitektur dengan saksama, dan merasakan pesona kastel kuno ini yang tetap tidak berkurang setelah ditempa perjalanan waktu.

    Jika memiliki cukup waktu, Koko-en di dekatnya juga sangat direkomendasikan. Berjalan-jalan di taman yang dipenuhi nuansa Zen Jepang akan menambah ketenangan dan suasana santai dalam perjalanan sejarah ini.

    Ada tempat-tempat yang keindahannya baru benar-benar dapat dipahami setelah dikunjungi secara langsung.

    Keindahan Kastel Himeji bukan hanya warna putih bersihnya, tetapi juga sejarah dan kemegahan yang mengendap selama lebih dari empat ratus tahun.

Ulasan Lain oleh david

  • Otowa-san Kiyomizu-dera

    Didirikan pada 778, kuil Buddha ini terdaftar sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO pada 1994. Kompleks seluas 130.000 m² di lereng Gunung Otowa ini memiliki lebih dari 30 bangunan kuil dan monumen, termasuk yang ditetapkan sebagai Pusaka Nasional dan Properti Budaya Penting. Pemandangan Kiyomizu-dera yang berpadu dengan suasana setiap musim juga patut dinikmati: bunga sakura pada musim semi, dedaunan hijau pada musim panas, dedaunan berwarna-warni pada musim gugur, dan salju pada musim dingin.

    • Gion, Higashiyama, Yamashina
    • Kuil Shinto & Kuil Buddha

    Saat datang ke Kyoto, jika hanya dapat memilih satu kuil untuk merasakan sejarah dan keindahan ibu kota kuno, Kiyomizu-dera pasti merupakan tempat yang tidak boleh dilewatkan.

    Kiyomizu-dera yang terletak di Gunung Otowa didirikan pada 778 dan memiliki sejarah lebih dari seribu tahun. Kuil ini merupakan salah satu kuil yang paling mewakili Kyoto, sekaligus bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO “Monumen Bersejarah Kyoto Kuno”.

    Berjalan perlahan menaiki gunung melalui jalan menuju kuil dan melewati Gerbang Niomon yang berwarna merah terang, bangunan kuil yang khidmat pun terlihat. Bagian paling mengesankan dari Kiyomizu-dera tentu saja panggung Kiyomizu yang dibangun dengan teknik konstruksi kayu tradisional. Panggung ini ditopang oleh banyak tiang kayu dan menggantung di atas lereng gunung. Struktur utamanya dibangun tanpa menggunakan paku, memperlihatkan keahlian dan kebijaksanaan arsitektur Jepang kuno.

    Dari atas panggung, pemandangan Kota Kyoto dan pegunungan di kejauhan dapat terlihat sekaligus. Seiring pergantian musim, tempat ini juga menampilkan wajah yang sama sekali berbeda: bunga sakura berwarna merah muda lembut pada musim semi, kehijauan rimbun pada musim panas, lapisan daun maple merah pada musim gugur, serta keindahan yang dingin dan tenang pada musim dingin.

    Jika terus berjalan menyusuri jalur kuil, Air Terjun Otowa akan terlihat. Mata air jernih mengalir dari dinding gunung dan terbagi menjadi tiga aliran, yang secara tradisional dikaitkan dengan harapan akan keberhasilan dalam pendidikan, cinta, dan umur panjang. Banyak wisatawan datang ke sini bukan hanya untuk menikmati pemandangan, tetapi juga untuk memohon berkah bagi diri sendiri dan orang-orang terkasih.

    Namun, hal yang paling saya sukai mungkin bukan suatu pemandangan megah tertentu, melainkan perasaan yang tanpa sadar menjadi lebih tenang saat berjalan di antara bangunan kuil.

    Di kuil kuno yang telah melewati lebih dari seribu tahun ini, seolah-olah beratnya waktu dapat dirasakan. Tempat ini juga mengingatkan saya bahwa dalam hidup, tidak setiap langkah harus dijalani dengan tergesa-gesa. Ada hal-hal yang perlu ditunggu, ada jawaban yang membutuhkan waktu, dan orang yang benar-benar penting semakin layak untuk dihargai dengan baik.

    Makna perjalanan terkadang bukan hanya menikmati pemandangan, tetapi juga menemukan kembali ketenangan batin pada suatu momen yang tidak disengaja.

  • Pulau Chikubushima

    Chikubushima adalah pulau kecil di bagian utara Danau Biwa, sekitar 6 km dari tepi danau, dengan keliling sedikit lebih dari 2 km. Di pulau ini terdapat Kuil Buddha Hogonji, salah satu dari tiga tempat pemujaan utama Benzaiten di Jepang, serta Kuil Shinto Tsukubusuma. Sejak dahulu, pulau ini dihormati sebagai tempat bersemayam para dewa. Dalam beberapa tahun terakhir, pulau ini juga populer sebagai tempat yang dipercaya memiliki energi spiritual.

    • Shiga
    • Destinasi Wisata

    Ada tempat-tempat yang daya tariknya bukan hanya pemandangan, tetapi juga kekuatan untuk menjauhkan diri dari hiruk pikuk dan menenangkan hati.

    Kali ini saya datang ke Prefektur Shiga, Jepang, lalu menaiki kapal wisata menuju Pulau Chikubushima di Danau Biwa. Saat kapal perlahan meninggalkan tepi danau, hamparan air yang luas berangsur-angsur terbentang di depan mata. Pulau kecil yang dikelilingi pegunungan dan air danau itu pun muncul dengan tenang dalam pandangan, diselimuti sedikit kesan misterius.

    Chikubushima dijuluki “Pulau Para Dewa” dan sejak dahulu menjadi tempat suci penting bagi kepercayaan di Jepang. Di pulau ini terdapat Kuil Buddha Hogonji dan Kuil Shinto Tsukubusuma yang memiliki sejarah panjang. Pemandangan kuil Buddha dan kuil Shinto yang berdampingan juga menceritakan sejarah perpaduan budaya keagamaan Jepang. Hogonji di pulau ini bahkan merupakan salah satu dari tiga tempat suci utama pemujaan Benzaiten di Jepang.

    Saat berjalan-jalan di pulau dan menaiki tangga batu menuju kuil Buddha serta kuil Shinto kuno, sekelilingnya dipenuhi kehijauan yang lebat. Udara seolah-olah mengandung ketenangan dan kekhidmatan tersendiri. Terutama bangunan Pusaka Nasional yang halus dan megah, membuat orang tidak tahan untuk memperlambat langkah dan mengamati jejak sejarah dengan saksama.

    Saat datang ke Kuil Shinto Tsukubusuma, jangan lewatkan pengalaman berdoa terkenal berupa “melempar kawarake”. Piring tanah liat kecil yang telah ditulisi harapan dilemparkan ke arah torii di kejauhan. Konon, jika piring itu berhasil melewati torii, berarti ada kesempatan bagi harapan tersebut untuk terwujud. Dibandingkan hasilnya, pengalaman ini lebih terasa seperti menitipkan harapan dalam hati kepada angin danau serta para dewa.

    Dalam perjalanan, kita selalu sibuk mengejar objek wisata berikutnya dan mengambil setiap foto. Namun, di Chikubushima justru lebih cocok berjalan dan melihat-lihat dengan tenang, membiarkan perasaan perlahan mengendap mengikuti air danau.

    Mungkin perjalanan bukan hanya tentang berapa banyak tempat yang pernah dikunjungi, tetapi tentang menemukan ketenangan milik diri sendiri pada suatu momen yang tidak disengaja.

Hokkaido Tohoku Kanto Chubu Hokuriku Kansai Chugoku Shikoku Kyushu Okinawa